Agentic AI Mulai Mengubah Ekonomi Digital, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

agentic ai

bizznessday – Beberapa tahun terakhir, ketika mendengar artificial intelligence atau AI, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan chatbot. Kita mengetik pertanyaan, AI memberikan jawaban. Kita meminta dibuatkan email, gambar, ringkasan atau ide konten, lalu AI mengerjakannya.

Namun, perkembangan AI mulai bergerak ke tahap berikutnya.

Bayangkan suatu hari Anda tidak lagi mengatakan kepada AI, “Carikan tiket pesawat termurah ke Bali.”

Sebaliknya, Anda cukup mengatakan, “Saya ingin liburan ke Bali akhir bulan ini. Budget tiket maksimal Rp2 juta, penerbangan jangan terlalu pagi dan pilih maskapai dengan bagasi.”

AI kemudian mencari penerbangan, membandingkan harga, memeriksa jadwal, memilih opsi sesuai kriteria, lalu melakukan pemesanan dan pembayaran setelah mendapatkan otorisasi yang sesuai.

Konsep inilah yang mulai banyak dibicarakan sebagai agentic AI.

Berbeda dengan chatbot yang terutama memberikan jawaban, agentic AI dirancang untuk memahami tujuan, menyusun langkah-langkah yang dibutuhkan, berinteraksi dengan sistem digital lain dan melakukan tindakan dengan tingkat kemandirian tertentu.

Perkembangan ini bukan lagi sekadar topik eksperimen laboratorium. Di Indonesia, pemerintah, regulator, sektor keuangan hingga perusahaan teknologi mulai membicarakan dampaknya.

Pada Agustus 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria bahkan menyoroti kemampuan agentic AI dalam mengambil keputusan dan melakukan transaksi. Menurutnya, perkembangan tersebut menimbulkan tantangan baru karena interaksi ekonomi di masa depan bukan tidak mungkin terjadi antara AI dengan AI.

Kalau teknologi ini berkembang luas, dampaknya terhadap ekonomi digital Indonesia bisa jauh lebih besar daripada sekadar munculnya chatbot yang semakin pintar.

Apa Itu Agentic AI?

Secara sederhana, agentic AI adalah sistem AI yang tidak hanya menghasilkan informasi, tetapi dapat melakukan serangkaian tindakan untuk mencapai tujuan tertentu.

International Monetary Fund atau IMF menjelaskan bahwa sistem agentic AI dapat menafsirkan tujuan pengguna, memecah tujuan tersebut menjadi beberapa tugas dan berinteraksi dengan layanan digital dengan intervensi manusia yang lebih terbatas.

Di sinilah perbedaannya dengan generative AI yang selama ini lebih familiar.

Ketika menggunakan chatbot AI biasa, manusia masih menjadi operator utama.

Kita memberikan prompt, AI menjawab, kemudian kita menentukan apa yang harus dilakukan dengan jawaban tersebut.

Agentic AI mencoba bergerak satu tahap lebih jauh. Pengguna memberikan tujuan, sedangkan AI dapat membantu menentukan langkah-langkah untuk mencapainya.

Misalnya, sebuah perusahaan ingin mencari pemasok bahan baku dengan harga terbaik. AI agent secara teori dapat mencari vendor, membandingkan penawaran, mengecek persediaan, mempertimbangkan kebutuhan perusahaan dan menyiapkan transaksi sesuai batas kewenangan yang diberikan.

Manusia tidak harus memberikan instruksi pada setiap langkah.

Tentu saja, kemampuan tersebut tidak berarti AI bebas melakukan apa saja. Sistem agentic AI tetap membutuhkan batas kewenangan, mekanisme otorisasi dan pengawasan manusia.

Justru persoalan mengenai batas tersebut menjadi salah satu perdebatan penting ketika agentic AI mulai masuk ke dunia ekonomi.

Dari Chatbot Menuju AI yang Bisa Bertindak

Perubahan dari chatbot menuju agentic AI bisa dibandingkan dengan perbedaan antara “penasihat” dan “asisten”.

Chatbot bisa memberikan rekomendasi hotel.

AI agent berpotensi mencari hotel, membandingkan harga, memeriksa ulasan, mencocokkannya dengan jadwal perjalanan dan melakukan reservasi sesuai parameter yang diberikan pengguna.

Chatbot bisa menjelaskan cara membuat laporan penjualan.

AI agent dapat mengambil data dari beberapa sistem, mengolahnya, membuat laporan, mengirimkannya kepada pihak terkait dan menjalankan tindakan lanjutan berdasarkan hasil analisis.

Perubahan kecil dalam definisi tersebut sebenarnya memiliki konsekuensi ekonomi yang besar.

Sebab, ketika AI mulai bisa melakukan tindakan, teknologi tersebut tidak lagi hanya bersentuhan dengan informasi.

AI mulai bersentuhan dengan uang, transaksi, kontrak, inventaris, data pelanggan dan keputusan bisnis.

Agentic Commerce Bisa Mengubah Cara Kita Belanja

Salah satu bidang yang diperkirakan paling cepat terdampak adalah e-commerce.

Konsepnya sering disebut agentic commerce, yaitu penggunaan AI agent untuk membantu atau bahkan melakukan aktivitas perdagangan atas nama pengguna.

Dalam pembahasan mengenai perkembangan pembayaran pada Oktober 2026, Bank for International Settlements menggambarkan dua model utama agentic commerce.

Model pertama adalah agent-assisted commerce. Dalam skenario ini, AI membantu konsumen mencari dan menemukan produk, tetapi keputusan akhir serta pembayaran tetap dilakukan oleh manusia.

Model kedua jauh lebih menarik, yaitu agent-delegated commerce.

Dalam model ini, konsumen memberikan kewenangan tertentu kepada AI untuk berbelanja dan melakukan pembayaran berdasarkan batasan yang sudah ditentukan.

Bayangkan Anda memberikan instruksi:

“Belikan kebutuhan rumah tangga setiap minggu. Budget maksimal Rp700.000. Prioritaskan produk yang biasa saya beli, tetapi pilih alternatif kalau harganya lebih murah minimal 15 persen.”

AI kemudian dapat memeriksa kebutuhan, mencari produk, membandingkan merchant dan menyelesaikan pembelian.

Jika model seperti ini menjadi umum, cara konsumen menemukan produk bisa berubah drastis.

SEO dan Iklan Digital Bisa Ikut Berubah

Selama ini perusahaan berlomba mendapatkan perhatian manusia.

Website dibuat agar muncul di Google. Brand memasang iklan di media sosial. Marketplace menawarkan diskon agar konsumen membuka aplikasi mereka.

Namun, apa yang terjadi ketika sebagian keputusan belanja dilakukan oleh AI?

AI mungkin tidak peduli apakah sebuah iklan memiliki desain yang menarik.

AI akan lebih tertarik pada informasi yang dapat dibaca mesin seperti harga, ketersediaan barang, spesifikasi, reputasi merchant, biaya pengiriman dan kebijakan pengembalian.

Artinya, perusahaan di masa depan mungkin tidak hanya bersaing mendapatkan perhatian manusia.

Mereka juga harus memastikan produk mereka dapat ditemukan dan dipahami oleh AI agent.

Perubahan tersebut berpotensi melahirkan bentuk optimasi baru dalam perdagangan digital. Jika sekarang kita mengenal SEO untuk mesin pencari, bisnis nantinya mungkin semakin memikirkan bagaimana katalog produk dan layanan mereka dapat ditemukan serta dipilih oleh sistem AI.

Bagi UMKM Indonesia, perubahan tersebut bisa menjadi peluang sekaligus tantangan.

Agentic AI Mulai Masuk Indonesia

Agentic AI bukan sepenuhnya cerita masa depan bagi Indonesia.

Pada April 2026, Telkom Indonesia meluncurkan Agentic AI by BigBox, platform yang ditujukan untuk otomasi cerdas, integrasi proses bisnis dan pengambilan keputusan berbasis data.

Kemunculan produk semacam ini menunjukkan perusahaan teknologi Indonesia mulai bergerak dari sekadar menyediakan chatbot menuju sistem AI yang terintegrasi dengan proses bisnis.

Pemerintah juga melihat AI sebagai bagian penting dari transformasi ekonomi.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Agustus 2026 menyebut pengembangan AI, digital twin, pusat data dan ekosistem semikonduktor sebagai bagian dari fondasi ekonomi digital Indonesia ke depan.

Pemerintah mengutip estimasi PwC bahwa AI secara global berpotensi memberikan tambahan nilai ekonomi hingga US$15,7 triliun pada 2030.

Namun, nilai sebenarnya dari agentic AI bagi Indonesia nantinya tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak perusahaan menggunakan AI.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah AI benar-benar meningkatkan produktivitas.

Dunia Perbankan Bisa Menjadi Salah Satu yang Paling Terdampak

Sektor keuangan menjadi area yang sangat menarik sekaligus sensitif untuk penerapan agentic AI.

Saat ini AI sudah digunakan untuk berbagai aktivitas seperti analisis risiko, deteksi fraud, customer service dan pengolahan data.

Agentic AI dapat membawa kemampuan tersebut lebih jauh.

Bayangkan AI yang membantu perusahaan mengatur arus kas, menjadwalkan pembayaran kepada vendor, mencari instrumen keuangan sesuai profil risiko atau memindahkan dana berdasarkan aturan tertentu.

Potensinya besar.

Namun, risikonya juga jauh lebih serius karena AI tidak lagi hanya memberikan rekomendasi.

AI bisa melakukan tindakan finansial.

Pada Agustus 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan agentic AI yang diberikan kewenangan pengambilan keputusan dapat melakukan transaksi. Bahkan, transaksi tersebut bisa terjadi antara agentic AI dengan sistem AI lainnya.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan sederhana tetapi sulit dijawab.

Kalau AI melakukan transaksi yang salah, siapa yang bertanggung jawab?

Pengguna? Bank? Perusahaan pembuat AI? Penyedia aplikasi? Atau perusahaan yang mengoperasikan agent tersebut?

Pertanyaan seperti ini akan semakin penting ketika nilai transaksi yang ditangani AI semakin besar.

Pembayaran Bisa Memasuki Era Baru

IMF pada April 2026 secara khusus membahas bagaimana agentic AI dapat mengubah sistem pembayaran.

Selama ini pembayaran umumnya dimulai oleh manusia.

Kita memilih barang, menekan tombol beli, memilih metode pembayaran dan memberikan persetujuan.

Dalam sistem berbasis AI agent, alurnya bisa berubah.

Agent dapat mengambil keputusan berdasarkan mandat yang sebelumnya diberikan pengguna. Sistem kemudian berinteraksi dengan merchant dan infrastruktur pembayaran untuk menyelesaikan transaksi.

Bukan berarti manusia sepenuhnya dikeluarkan dari proses.

Sebaliknya, industri harus menentukan kapan persetujuan manusia diperlukan.

Misalnya, pengguna mungkin mengizinkan AI membeli kebutuhan sehari-hari hingga Rp500.000 tanpa meminta konfirmasi tambahan. Tetapi transaksi di atas jumlah tersebut harus mendapatkan persetujuan.

Mekanisme semacam ini bisa menjadi sangat penting dalam ekonomi berbasis AI.

UMKM Bisa Mendapat “Karyawan Digital”

Dampak agentic AI tidak hanya relevan untuk perusahaan besar.

Justru salah satu potensi menariknya adalah memberikan kemampuan otomasi kepada bisnis kecil.

Bayangkan sebuah toko online yang hanya memiliki tiga karyawan.

AI agent dapat membantu mengecek stok, menjawab pertanyaan pelanggan, menganalisis penjualan, membuat promosi, membandingkan harga pemasok dan menyiapkan laporan keuangan sederhana.

Pemilik usaha tidak harus mempekerjakan satu orang untuk setiap fungsi tersebut.

AI pada dasarnya bisa menjadi semacam “karyawan digital” yang menangani pekerjaan rutin.

Tentu saja istilah tersebut tidak berarti AI benar-benar menggantikan seluruh fungsi manusia.

Pekerjaan yang membutuhkan negosiasi kompleks, kreativitas, empati, penilaian kontekstual dan tanggung jawab tetap membutuhkan keterlibatan manusia.

Namun, pekerjaan administratif berulang berpotensi semakin banyak diotomatisasi.

Bagi jutaan UMKM Indonesia, akses terhadap otomasi murah dapat menjadi salah satu dampak ekonomi paling signifikan dari perkembangan AI.

Tetapi UMKM Juga Menghadapi Risiko Baru

Ada sisi lain yang tidak boleh diabaikan.

Perusahaan besar memiliki tim teknologi, keamanan siber dan legal. Sebagian besar UMKM tidak memiliki sumber daya tersebut.

Ketika AI agent mendapatkan akses ke rekening, inventaris, database pelanggan atau akun marketplace, kesalahan konfigurasi bisa menghasilkan kerugian nyata.

Misalnya, AI salah membaca instruksi dan memberikan diskon terlalu besar.

Atau sistem memesan stok jauh lebih banyak daripada kebutuhan.

Risiko yang lebih serius terjadi jika akun AI berhasil diambil alih oleh pelaku kejahatan siber.

Karena itu, kemudahan penggunaan agentic AI harus berjalan bersama sistem keamanan yang kuat.

Lapangan Kerja Tidak Otomatis Hilang, tetapi Isinya Bisa Berubah

Setiap gelombang otomasi selalu memunculkan kekhawatiran tentang pekerjaan.

Agentic AI pun demikian.

Perbedaannya, teknologi ini tidak hanya menyasar pekerjaan manual. Banyak pekerjaan administratif dan pekerjaan berbasis komputer juga berpotensi terdampak.

Customer service sederhana, input data, pembuatan laporan rutin, penjadwalan hingga beberapa proses analisis dapat semakin banyak dibantu AI.

Namun, dampaknya kemungkinan tidak sesederhana “AI menggantikan manusia”.

Perusahaan tetap membutuhkan orang yang menentukan tujuan, mengawasi keputusan AI, mengevaluasi hasil, menangani pengecualian dan bertanggung jawab ketika sesuatu berjalan salah.

Kompetensi pekerja akhirnya ikut berubah.

Kemampuan menggunakan AI mungkin menjadi keterampilan dasar, sementara kemampuan mengawasi AI menjadi keterampilan yang semakin penting.

Pemerintah Indonesia juga sudah menyoroti perubahan ini. Komdigi menilai talenta di era AI tidak cukup hanya memahami cara menggunakan teknologi, tetapi juga perlu memahami tata kelola data, manajemen risiko AI, keamanan siber, etika dan akuntabilitas.

Bank Indonesia Juga Mulai Memperkuat Tata Kelola AI

Perkembangan AI juga menjadi perhatian bank sentral.

Dalam pertemuan Executive Meeting of East Asia-Pacific Central Banks pada Juli 2026, para gubernur bank sentral kawasan Asia Pasifik membahas peluang sekaligus risiko penggunaan AI dalam bank sentral dan sektor keuangan.

Bank Indonesia menyebut AI berpotensi meningkatkan produktivitas, efisiensi dan inovasi.

BI sendiri sudah mengembangkan berbagai penggunaan AI untuk mendukung analisis dan perumusan kebijakan, termasuk nowcasting dan sentiment analysis.

Namun, Bank Indonesia juga menekankan pentingnya kualitas data, tata kelola, sumber daya manusia serta kedaulatan data dan infrastruktur strategis.

Ini menunjukkan bahwa diskusi tentang AI mulai bergeser.

Pertanyaannya bukan lagi hanya, “Bisakah AI melakukan pekerjaan ini?”

Pertanyaan berikutnya adalah, “Bagaimana memastikan AI melakukan pekerjaan tersebut secara aman dan dapat dipertanggungjawabkan?”

Regulasi Agentic AI Akan Menjadi Tantangan Besar

Agentic AI membuat regulasi AI menjadi lebih rumit.

Mengatur chatbot relatif lebih sederhana karena output utamanya berupa informasi.

Agentic AI dapat menghasilkan tindakan.

Ketika sebuah sistem memiliki kemampuan melakukan pembayaran, membeli produk, mengakses data atau membuat keputusan finansial, konsekuensi kesalahannya jauh lebih besar.

Indonesia sedang mengembangkan kerangka tata kelola AI. Komdigi pada Agustus 2026 menyatakan regulasi AI sedang dalam proses untuk ditetapkan dalam bentuk peraturan presiden bersama panduan etika AI.

Bagi regulator, tantangannya adalah menemukan keseimbangan.

Aturan yang terlalu longgar bisa meningkatkan risiko penyalahgunaan dan merugikan konsumen.

Namun, regulasi yang terlalu kaku juga bisa membuat inovasi Indonesia tertinggal.

Pendekatan seperti regulatory sandbox menjadi relevan karena teknologi baru dapat diuji dalam lingkungan yang lebih terkendali sebelum digunakan dalam skala besar.

Keamanan Siber Menjadi Jauh Lebih Penting

Kalau akun media sosial diretas, dampaknya sudah merepotkan.

Bayangkan kalau yang diretas adalah AI agent yang memiliki izin melakukan transaksi.

Masalah keamanan pada agentic AI memiliki dimensi baru karena penyerang tidak hanya berusaha mencuri data.

Mereka mungkin mencoba memanipulasi keputusan AI.

Instruksi berbahaya bisa disisipkan ke dalam informasi yang dibaca agent. Sistem kemudian dapat diarahkan melakukan tindakan yang sebenarnya tidak diinginkan pengguna.

Karena itu, perusahaan tidak bisa memperlakukan AI agent seperti chatbot biasa.

Setiap izin harus dibatasi.

Setiap transaksi penting harus tercatat.

Tindakan berisiko tinggi harus membutuhkan verifikasi tambahan.

Dan manusia harus memiliki kemampuan menghentikan sistem ketika perilakunya menyimpang.

Prinsip sederhananya adalah semakin besar kewenangan yang diberikan kepada AI, semakin kuat pula sistem pengawasannya.

Indonesia Punya Peluang Besar, tetapi Tidak Bisa Hanya Menjadi Pengguna

Indonesia memiliki pasar digital besar, ekosistem fintech yang berkembang dan adopsi pembayaran digital yang tinggi.

OJK mencatat pada Juli 2026 outstanding pembiayaan daring sudah mencapai Rp105,63 triliun, sementara jumlah akun konsumen aset kripto telah melampaui 22,93 juta.

Di saat yang sama, pemerintah terus mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan digital sebagai bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi nasional.

Agentic AI bisa menjadi lapisan teknologi berikutnya di atas ekosistem tersebut.

Namun, Indonesia akan mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih besar apabila tidak hanya menjadi konsumen teknologi AI dari luar negeri.

Pengembangan model, pusat data, aplikasi AI lokal, talenta, keamanan siber dan perusahaan teknologi domestik menjadi bagian penting dari rantai nilai tersebut.

Data juga memiliki posisi strategis.

AI membutuhkan data untuk bekerja dengan baik. Karena itu, pertanyaan mengenai lokasi penyimpanan data, siapa yang dapat mengaksesnya dan bagaimana data digunakan menjadi semakin penting.

Era Ketika AI Mulai Menjadi Pelaku Ekonomi

Agentic AI membawa kita pada perubahan yang cukup fundamental.

Pada era internet pertama, manusia mencari informasi.

Pada era platform digital, manusia melakukan transaksi melalui aplikasi.

Pada era generative AI, manusia mulai meminta mesin membuat informasi.

Agentic AI berpotensi membawa tahap berikutnya: manusia memberikan tujuan, sementara AI membantu menjalankan tindakan untuk mencapai tujuan tersebut.

Perubahannya mungkin tidak terjadi dalam semalam.

Bahkan BIS pada Oktober 2026 masih menggambarkan agentic commerce sebagai teknologi yang berada pada fase awal. Model yang memberikan kewenangan transaksi penuh kepada AI membutuhkan mekanisme kepercayaan dan pengamanan yang jauh lebih matang.

Namun, arahnya mulai terlihat.

AI perlahan bergerak dari teknologi yang hanya menjawab pertanyaan menjadi teknologi yang dapat terlibat dalam aktivitas ekonomi.

Bagi Indonesia, peluangnya besar. Perusahaan bisa menjadi lebih efisien, UMKM bisa mendapatkan akses ke otomasi yang sebelumnya mahal, layanan finansial bisa semakin personal dan konsumen bisa menghemat banyak waktu.

Tetapi semakin besar kemampuan AI untuk bertindak, semakin besar pula konsekuensi ketika teknologi tersebut melakukan kesalahan.

Karena itu, pertanyaan penting dalam beberapa tahun ke depan mungkin bukan lagi apakah kita akan menggunakan AI.

Pertanyaannya adalah: seberapa besar kewenangan yang bersedia kita berikan kepada AI untuk mengambil keputusan atas nama kita?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan ikut menentukan seperti apa wajah ekonomi digital Indonesia berikutnya.

Referensi

Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. Agentic AI Mulai Ambil Keputusan Keuangan, Wamen Nezar: Regulasi Tak Bisa Menunggu, 27 Agustus 2026.
https://portal.komdigi.go.id/kanal-publik/berita-kini/10505

Bank Indonesia. Bank Sentral Asia Pasifik Perkuat Tata Kelola Adopsi AI, Juli 2026.
https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2814426.aspx

Bank Indonesia. Laporan Kelembagaan Bank Indonesia Triwulan II 2026.
https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/LKBI-Tw.II-2026.aspx

Otoritas Jasa Keuangan. Dorong Penguatan Ekonomi Nasional, OJK Fokus Pengembangan Keuangan Digital, FEKDI dan IFSE 2026, 24 September 2026.
https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/FEKDI-dan-IFSE-2026.aspx

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. Menko Airlangga Dorong Penguatan Ekosistem AI dan Digital Twin untuk Transformasi Ekonomi Indonesia, 26 Agustus 2026.
https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/7067/menko-airlangga-dorong-penguatan-ekosistem-ai-dan-digital-twin-untuk-transformasi-ekonomi-indonesia

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. Perkuat Sinergi dan Inovasi, Pemerintah Dorong Akselerasi Ekonomi Keuangan Digital untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional, 24 September 2026.
https://ekon.go.id/publikasi/detail/7113/perkuat-sinergi-dan-inovasi-pemerintah-dorong-akselerasi-ekonomi-keuangan-digital-untuk-dukung-pertumbuhan-ekonomi-nasional

Telkom Indonesia. Telkom Luncurkan Agentic AI by BigBox, Lompatan Baru AI Otonom untuk Percepat Transformasi Industri Nasional, 27 April 2026.
https://www.telkom.co.id/sites/berita/id_ID/news/telkom-luncurkan-agentic-ai-by-bigbox-lompatan-baru-ai-otonom-untuk-percepat-transformasi-industri-nasional-3731

International Monetary Fund. How Agentic AI Will Reshape Payments, 22 April 2026.
https://www.imf.org/en/publications/imf-notes/issues/2026/04/22/how-agentic-ai-will-reshape-payments-575560

Bank for International Settlements. Payments in the Age of AI Agents, 5 Oktober 2026.
https://www.bis.org/speeches/20261005-payments-age-ai-agents

About the Author

Aditya Hidayat

Saya nggak jago teori, tapi pernah gagal dan bangkit berkali-kali. Di sini saya bagikan cerita bisnis nyata langsung dari warung kopi dan meja produksi kecil-kecilan.

You may also like these