Ringkasan: Video dan live commerce sudah menjadi jalur belanja utama, bukan lagi pelengkap. Volume transaksi video commerce Indonesia melonjak 90% dalam setahun, dan hampir separuh pembeli online sudah pernah bertransaksi lewat format ini. Bagi UMKM, ini bukan tren yang bisa ditunda.
Apa itu Live Commerce?

Live commerce adalah aktivitas menjual produk secara langsung lewat siaran video interaktif, di mana penonton bisa bertanya, melihat demo produk, dan langsung checkout tanpa pindah aplikasi. Bentuknya bagian dari video commerce yang lebih luas, mencakup juga video pendek berisi rekomendasi produk. Formatnya menggabungkan hiburan dan transaksi dalam satu layar.
Mengapa Live Commerce Penting bagi UMKM di 2026?

Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat lonjakan besar di sektor ini. Jumlah penjual yang menggunakan video melonjak 75% YoY menjadi 800.000, mendorong volume transaksi tahunan naik 90% menjadi 2,6 miliar transaksi. Fashion dan aksesori menjadi kategori dengan kontribusi terbesar terhadap penjualan lewat video, diikuti perawatan diri dan kecantikan.
Data historis menunjukkan arah tren ini konsisten. Menurut laporan e-Conomy SEA sebelumnya yang dikutip Kompas.id, kontribusi video commerce terhadap total nilai e-dagang meningkat dari hanya 5% pada 2022 menjadi sekitar 20% pada 2024, dan 44% pembeli di platform e-dagang tercatat pernah berbelanja lewat video commerce. Untuk UMKM yang mengandalkan strategi digital marketing sebagai kanal utama, angka ini menandakan pergeseran perilaku belanja yang sulit diabaikan.
Nilai pasarnya pun terus membesar. Riset Bain & Company (2025) yang dirangkum dalam analisis tren e-commerce mencatat nilai transaksi social commerce Indonesia mencapai US$10,8 miliar pada 2025 dan diperkirakan melampaui US$14 miliar pada 2026.
Data Pasar: Temuan Riset Independen tentang Live Commerce Indonesia

Sumber publik terverifikasi, bukan riset internal bizznessday
| Metrik | Nilai | Sumber | Periode |
|---|---|---|---|
| Volume transaksi video commerce | 2,6 miliar transaksi (+90% YoY) | e-Conomy SEA 2025 (Google/Temasek/Bain) | 2025 |
| Jumlah penjual pakai video | 800.000 (+75% YoY) | e-Conomy SEA 2025 | 2025 |
| Pembeli yang pernah belanja via video commerce | 44% dari total pembeli e-dagang | e-Conomy SEA, via Kompas.id | 2024 |
| Nilai social commerce RI | US$10,8 miliar → proyeksi >US$14 miliar | Bain & Company | 2025→2026 |
| Awareness live shopping | 85% (naik dari 80%) | Survei Jakpat untuk IndoTelko | H1 2025 |
| Penonton live shopping yang akhirnya bertransaksi | 77% dari 87% penonton | Riset Jakpat, via RRI.co.id | 2025 |
| Frekuensi belanja live shopping “beberapa kali sebulan” | 49% responden | Survei GoodStats | 2025 |
Angka-angka ini konsisten menunjukkan satu pola: penonton live shopping bukan sekadar penonton pasif. Mayoritas dari mereka benar-benar mengonversi jadi pembeli, bukan hanya menikmati konten hiburan.
Platform Live Commerce Terpopuler untuk UMKM

Berdasarkan pangsa pasar dan preferensi pengguna di Indonesia:
| # | Platform | Pangsa Akses E-Commerce | Best For | Catatan Biaya | Sumber |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Shopee Live | 47,5% (akses e-commerce keseluruhan) | UMKM segala kategori, basis pembeli terluas | Fitur live gratis untuk penjual terdaftar | Survei APJII 2026 |
| 2 | TikTok Shop Live | 33,4% | Produk visual/fashion, target usia muda | Terintegrasi ekosistem Tokopedia-GoTo | Survei APJII 2026 |
| 3 | Tokopedia | 11,2% | UMKM lokal, basis penjual domestik | Gratis, sinkron dengan TikTok Shop | Survei APJII 2026 |
| 4 | Lazada LazLive | 6,2% | Produk elektronik & rumah tangga | Fitur live gratis untuk seller aktif | Survei APJII 2026 |
| 5 | Instagram Live Shopping | Data spesifik belum dipublikasi terpisah | Brand dengan basis followers kuat | Gratis, perlu Instagram Shop terverifikasi | Estimasi kualitatif industri |
| 6 | Evermos | Fokus pasar mikro/komunitas | UMKM reseller berbasis komunitas | Model kemitraan reseller | Analisis tren e-commerce 2026 |
| 7 | WhatsApp Business + katalog | Data spesifik belum dipublikasi terpisah | UMKM dengan basis pelanggan repeat order | Gratis untuk fitur dasar | Estimasi kualitatif industri |
Baris 5–7 tidak punya angka pangsa pasar resmi yang dipublikasikan secara terpisah — ditandai transparan agar tidak dianggap data terukur.
Cara Implementasi Live Commerce untuk UMKM — Step by Step

Langkah ini disusun berdasarkan pola yang konsisten dari data industri di atas, bukan klaim hasil pengujian internal.
- Pilih satu platform dulu: Mulai dari platform dengan pangsa pembeli terbesar sesuai kategori produk — Shopee Live untuk basis pembeli terluas, TikTok Shop untuk produk visual.
- Siapkan katalog ringkas: Batasi 5–10 produk unggulan per sesi live, bukan seluruh katalog, agar penonton tidak kebingungan.
- Jadwalkan sesi rutin: Konsistensi jadwal membangun kebiasaan menonton, sejalan dengan tingginya angka awareness live shopping di atas.
- Latih host untuk interaksi dua arah: Data Jakpat menunjukkan konversi tinggi terjadi saat penonton merasa terlibat langsung, bukan hanya menonton demo satu arah.
- Gabungkan dengan promosi terjadwal: UMKM yang sudah menjalankan strategi go digital bisa mengaitkan sesi live dengan kalender promosi platform.
- Pertimbangkan chatbot untuk pertanyaan berulang: Saat sesi live ramai, chatbot AI bisa menjawab pertanyaan standar sementara host fokus closing.
- Pantau arus kas dari kanal baru: Penambahan kanal penjualan berarti penambahan variabel arus kas — pengelolaan cash flow perlu disesuaikan agar stok dan omzet live shopping tetap tercatat rapi.
- Evaluasi tanpa modal stok besar dulu: Bagi UMKM yang belum siap stok banyak, model dropship tanpa stok bisa jadi jembatan sebelum investasi ke stok sendiri.
Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari

- Live tanpa jadwal tetap — mengurangi peluang penonton loyal terbentuk.
- Terlalu banyak produk dalam satu sesi — menurunkan fokus dan rasio konversi.
- Tidak menyiapkan stok untuk produk yang di-highlight — berisiko mengecewakan pembeli yang baru saja tertarik.
- Mengabaikan data cash flow dari kanal baru — omzet live shopping tetap perlu direkonsiliasi dengan pembukuan utama.
Disclaimer: Konten ini bersifat informasi operasional dan bukan saran investasi atau keuangan. UMKM disarankan berkonsultasi dengan konsultan bisnis atau perencana keuangan bersertifikat untuk keputusan skala besar.
FAQ — Live Commerce untuk UMKM
Apa itu live commerce?
Live commerce adalah penjualan produk lewat siaran video langsung yang memungkinkan penonton bertanya dan checkout tanpa pindah aplikasi, bagian dari tren video commerce yang lebih luas.
Berapa persen pembeli Indonesia sudah belanja lewat live/video commerce?
Berdasarkan data e-Conomy SEA, 44% pembeli di platform e-dagang tercatat pernah belanja lewat video commerce, dengan volume transaksi tumbuh 90% year-on-year pada 2025.
Platform apa yang paling cocok untuk UMKM pemula live commerce?
Shopee Live dan TikTok Shop Live paling banyak dipakai berdasarkan survei APJII 2026, dengan pangsa akses e-commerce masing-masing 47,5% dan 33,4%.
Ditulis oleh Tim Redaksi bizznessday, disusun berdasarkan data publik dari APJII, e-Conomy SEA (Google/Temasek/Bain & Company), Jakpat, dan GoodStats.